Tagged: Toyota

Toyota Siram Indonesia Rp 25 Triliun

Jakarta, autokritik – Toyota Motor Corporation (TMC), raksasa otomotif Jepang, akan meningkatkan investasi di Indonesia dari Rp 20 triliun menjadi Rp 25 triliun hingga 2019. Komitmen itu disampaikan Presiden TMC Akio Toyoda dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/3).

Investasi itu dikucurkan oleh perusahaan-perusahaan di bawah Grup Toyota. Sebagai contoh, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) agresif mengucurkan investasi untuk membangun pabrik mesin, perakitan, dan memproduksi mobil baru.

Saat ini, TMMIN memiliki pabrik perakitan di Karawang, Jawa Barat, berkapasitas produksi terpasang 250 ribu unit per tahun. TMMIN juga telah menuntaskan pembangunan pabrik mesin aluminium di Karawang berkapasitas 216 ribu unit per tahun dengan investasi Rp 2,3 triliun.

“Hingga saat ini, Toyota telah mengucurkan investasi Rp 18 triliun, sehingga masih ada alokasi investasi Rp 7 triliun yang akan dihabiskan hingga 2019,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto yang hadir dalam pertemuan Akio Toyoda dan Jokowi.

Dia mengatakan, saat bertemu Jokowi, Toyoda didampingi calon Presiden Direktur TMMIN yang baru Warih Andang Tjahjono. Pada pertemuan itu, Toyota berjanji akan berkontribusi positif dalam pengembangan industri otomotif dalam negeri, melalui peningkatan investasi, ekspor, ketenagakerjaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Toyota juga mendorong untuk mengadakan program magang selama enam bulan. Jadi sejalan‎ dengan vocational training dan vocational school pemerintah,” kata dia. (ID)

Chandra Asri Masuk Toyota

ilustrasi-mobil

Jakarta, autokritik – PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) memasok resin polipropilena (PP) impact copolymer ke PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Resin ini akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan komponen mobil Toyota Vios dan Yaris.

Devisa negara yang dapat dihemat dari substitusi impor resin dan komponen mobil ini diperkirakan sekitar US$ 60 juta per tahun. Selain untuk Vios dan Yaris, CAP berencana untuk memasok produk itu ke Fortuner, Kijang Innova, dan LCGC Toyota. PP CAP kini juga digunakan LCGC Daihatsu dan mobil serta motor Honda.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, kerja sama CAP dan TMMIN sesuai dengan visi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperdalam struktur industri otomotif nasional. Kerja sama itu juga akan mendorong pertumbuhan industri komponen kendaraan di dalam negeri.

Saat ini, dia mencatat, terdapat sekitar 1.500 perusahaan komponen otomotif di Indonesia, dari lapis satu hingga tiga. Manuver dua perusahaan itu juga menjadi momentum transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor otomotif.

Industri otomotif nasional, kata dia, saat ini mampu memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang berbasis bahan baku lokal sekitar 60%. Kemenperin menargetkan, TKDN lokal mencapai 90% pada 2018-2019 melalui penyerapan plastik dan baja lokal.

“Dengan didukung beberapa kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, kerja sama ini menjadi momentum penting untuk memaksimalkan kinerja industri kita, terutama di sektor otomotif sekaligus guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Airlangga, Kamis (9/2).

Industri otomotif merupakan salah satu sektor prioritas dalam kebijakan industri nasional. Produksi mobil ditargetkan mencapai 2,5 juta unit pada 2020.

Presiden Direktur CAP Erwin Ciputra mengatakan, kerja sama itu merupakan lahan pemasaran baru yang akan terus meningkat, seiring perkembangan industri otomotif. Kerja sama itu dapat meningkatkan performa industri compounding dan moulding dalam negeri, yaitu PT Hexa Indonesia yang menambahkan aditif dan pewarna pada resin serta PT Sugity yang mencetak resin menjadi komponen otomotif.

Erwin berharap CAP dapat memasok kebutuhan PP sebanyak 25 ribu ton per tahun untuk 500 ribu unit mobil, dengan pemakaian rata-rata 50 kg per unit. Sementara itu, kapasitas pabrik PP CAP saat ini mencapai 480 ribu ton per tahun dan akan ditingkatkan menjadi 580 ribu ton per tahun dalam beberapa tahun ke depan. Ini untuk menutup kebutuhan industri plastik di Indonesia.

“Pemenuhan PP impact copolymer untuk industri otomotif nasional dapat terjamin oleh CAP,” papar Erwin.

Sementara itu, Presiden Direktur TMMIN Masahiro Nonami mengatakan, industri otomotif memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian suatu negara. Langkah strategis yang perlu dilakukan dalam mencapai beberapa target tersebut antara lain peningkatan produktivitas, efisiensi logistik dan penggunaan material lokal.

Nonami mengungkapkan, tidak lama lagi TMMIN akan meningkatkan komponen lokal dari bahan baku yang diproduksi industri dalam negeri, seperti material resin lain (PP-3 dan TSOP), karet sintetis, dan aluminium. “Kami percaya, industri otomotif di Indonesia mampu mengejar pesaing utamanya, Thailand,” kata Nonami.

Trimegah: Harga Venturer Rp 397-441 Juta 


Jakarta, autokritik – PT Toyota Astra Motor (TAM) bakal merilis varian tertinggi Innova, Venturer, Senin pekan depan. Dari keterangan salah satu diler terkemuka Toyota, MPV tujuh penumpang ini dibanderol Rp 397-441 juta, lebih mahal Rp 5 juta dari tipe tertinggi sebelumnya, Q. 

Dengan harga setara SUV, seperti CR-V dan Xtrail, Trimegah Securities, broker saham lokal, menilai Venturer tak akan mendongkrak total penjualan Innova secara signifikan. Sebab, Venturer bermain di pasar khusus alias niche market. 

“Konsumen cenderung memburu Innova G dan V yang dilepas Rp 289-352 juta,” tulis Trimegah dalam laporan riset, kemarin.

Venturer adalah model baru pertama yang dilepas TAM tahun ini. Tersiar kabar TAM bakal melansir juga crossover CHR. Kamis lalu, rival terkuat Toyota, Honda, merilis New Mobilio. (snx) 

Hachiroku Baru Diklaim Lebih Stabil

Penampakan New Toyota 86

Penampakan New Toyota 86

Jakarta, autokritik – Komitmen untuk senantiasa menghadirkan mobil Toyota yang mampu memberikan ekspektasi lebih bagi pelanggan kembali dibuktikan PT Toyota-Astra Motor (TAM). Melalui penyegaran yang dilakukan TAM, Toyota 86 yang kini tampil semakin agresif dengan performa yang mampu memberikan kepuasan lebih dalam berkendara dengan mobil sport.

“Toyota 86 ini dihadirkan dengan sentuhan penyempurnaan yang menonjolkan sisi evolusi dari karakternya sebagai sebuah mobil sport. Sejalan dengan semangat Let’s Go Beyond, kehadiran Hachiroku terbaru ini kami harapkan mampu memberikan kepuasan lebih kepada pelanggan dalam memiliki mobil sport Toyota yang menghadirkan pengalaman berkendara yang berbeda,” kata Vice TAM Henry Tanoto, hari ini.

Mesin 16 valve DOHC D-4S Boxer 4 silinder berkapasitas 1.998 cc masih dipercaya untuk menghadirkan performa menyenangkan. Penyegaran yang dilakukan pada New Toyota 86 menyentuh peningkatan stabilitas untuk kenyamanan berkendara, perubahan desain aerodinamis secara evolusi, dan kehadiran interior yang berkualitas dan nyaman untuk sebuah mobil sport.

Untuk stabilitas berkendara, sasis Toyota 86 kini telah dilengkapi dengan electric power steering (EPS) dan vehicle stability control logic (VSCL). Struktur bodi kendaraan juga tampil makin aerodinamis yang didukung dengan beberapa perubahan desain eksterior pada bumper, spatbor dan grille depan, spoiler, bumper dan spatbor belakang, serta velg aluminium 17 inch.

“Ubahan yang dihadirkan pada New Toyota 86 ini memberikan karakter yang semakin sporty sejalan dengan sejarah Toyota akan sport coupe legendaris, seperti Sport 800, AE86 dan 2000GT,” ucap Henry.

Selain itu, tampilan agresif Toyota 86 makin kental dengan sentuhan eksterior tambahan seperti lampu depan utama yang dilengkapi dengan sistem daytime running light (DRL), lampu kabut dengan lingkaran pelindung berdesain sporty, serta desain lampu sign belakang yang tegas.

Sentuhan sisi interior juga dilakukan dengan mengubah beberapa bagian guna mendukung karaktersitik mengemudi mobil sport yang lebih aman dan menyenangkan. Penambahan beberapa switch fungsional pada setir dan desain panel instrumen yang aerodinamis membuat pengemudi lebih terhubung dan makin menyatu dengan mobil.

“New Toyota 86 melalui perubahan dasar secara evolusi ini sejalan dengan kondisi pasar kendaraan coupe yang trennya saat ini mengarah revitalisasi agar makin berkembang. Toyota berharap bisa memainkan peran lebih banyak dalam revitalisasi pasar ini dengan makin mendekatkan Hachiroku kepada pengendara muda, termasuk para pelanggannya di Indonesia,” ucap Henry.

Toyota 86 merupakan kendaraan sport yang dikembangkan dengan konfigurasi boxer engine, front engine, rear wheel drive dan konfigurasi kursi 2+2, diperkenalkan pertama kali ke Indonesia pada 2012. Meski memiliki karakteristik sebagai mobil sport, Toyota 86 lebih memfokuskan pada pengendalian yang mantap serta performa yang tepat. Mobil ini juga memiliki perangkat keselamatan yang baik dan titik gravitasi rendah yang membuatnya stabil.

Toyota Serang Balik Astra

Penampakan Kijang Innova anyar

Penampakan Kijang Innova anyar

Jakarta, autokritik – Toyota Indonesia memastikan All New Kijang Innova adalah produk hasil karya anak bangsa dengan kualitas global. Ini bisa jadi merupakan serangan balik Toyota kepada Presiden Direktur Grup Astra Prijono Sugiarto yang menyebut Kijang buatan Jepang.

Toyota komit meningkatkan kandungan lokal dan mengikutsertakan semakin banyak pemasok lokal untuk memproduksi All New Kijang Innova. Kini, Kijang Innova memiliki kandungan lokal sebesar 85%, dengan jumlah pemasok lokal lapis pertama sebanyak 96 perusahaan dari total 139. Investasi yang ditanamkan oleh Toyota Indonesia untuk proyek ini mencapai Rp 4,9 triliun.

Pengembangan model Kijang dari tahap awal hingga akhir sejak generasi pertama selalu melibatkan puluhan insiyur lokal. Para insinyur lokal ini menerjemahkan keinginan konsumen Indonesia bersama koleganya di Jepang agar tiap-tiap generasi Kijang yang dipasarkan benar-benar mencerminkan dan memenuhi kebutuhan serta preferensi konsumen Indonesia. Ini karena Indonesia merupakan prioritas utama dalam pengembangan model Kijang.

“Sejak generasi pertama, Kijang didesain dan dikembangkan dengan mengacu pada kondisi dan kebutuhan konsumen Indonesia. Toyota melibatkan puluhan insiyur lokal dalam setiap pengembangan Kijang mulai dari pembuatan desain hingga pengujian di berbagai kondisi jalan di Indonesia. Produk ini bukan hanya mencerminkan selera konsumen tanah air namun sejatinya Kijang menjadi produk kebanggaan hasil karya anak bangsa dengan kualitas global”, ungkap Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono, Selasa (18/10).

The All New Kijang Innova diproduksi lengkap di fasilitas manufaktur TMMIN Karawang 1 Plant dan mesin berbahan bakar bensinnya, bernama TR-K, di produksi di Sunter 1 dan Sunter 2. Volume produksi Kijang beranjak dari 2.000 unit pada 1977 menjadi rata-rata 60 ribu unit dalam lima tahun terakhir.

Model Kijang juga merupakan model pertama yang diekspor Toyota Indonesia pada tahun 1987, dengan volume sekitar 500 unit per tahun ke negara-negara di Asean dan Pasifik. Kijang kemudian menjadi salah satu tulang punggung ekspor Toyota Indonesia. Selama lima tahun terakhir, ekspor utuh Kijang Innova rata-rata mencapai 16 ribu unit per tahun ke negara-negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, Kepulauan Karibia, dan Timur Tengah.

Sebelumnya, Prijono Sugiarto menyindir Toyota Kijang Innova. Menurut Pak Pri, demikian dia biasa disapa, Kijang menggunakan nama Indonesia, tapi dibuat oleh orang Jepang.

Prijono kemudian membandingkan Kijang dengan duet mobil murah (LCGC) Toyota Agya dan Daihatsu Ayla, yang bodinya didesain oleh Mark Wijaya di Sunter, Jakarta, lokasi markas besar Astra. Bagi dia, yang paling penting adalah siapa yang mendesain bodi, mesin, dan konsep mobil, sedangkan soal nama terserah.

“Mana yang bikin kita lebih bangga, Agya dan Ayla yang bodinya didesain Mark Wijaya atau namanya Kijang tapi buatan Jepang?” ujar Pri dalam wawancara eksklusifnya dengan majalah Tempo, belum lama ini.

Bentuk Perusahaan Baru, Toyota Tinggalkan Astra?

Darmawan Widjaja, direktur PT Toyota-Astra Motor bersama Hendra Purnawan, operation manager wilayah Jawa Timur dealer Auto2000.

Darmawan Widjaja, direktur PT Toyota-Astra Motor bersama Hendra Purnawan, operation manager wilayah Jawa Timur dealer Auto2000.

Jakarta, autokritik – Toyota Motor Corporation dan anak usahanya, Daihatsu Motor Company, akan mendirikan perusahaan patungan awal Januari 2017 untuk mengembangkan dan memasarkan mobil kompak di Indonesia. Mobil kompak yang dijual berkapasitas penumpang maksimal lima orang dan memiliki mesin berukuran 1.000-1.500 cc.

Selama ini, distribusi produk Toyota dan Daihatsu di Indonesia ditangani Grup Astra, pemegang 51% saham PT Toyota Astra Motor dan 32% saham PT Astra Daihatsu Motor (ADM), agen pemegang merek (APM) Toyota dan Daihatsu di negara ini. Apa ini berarti Toyota akan meninggalkan Astra?

“Produk ini akan dipasarkan di negara berkembang sebagai upaya memperluas penguasaan pasar di Asia,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangg Hartarto usai berkunjung
ke Daihatsu Technology Center di Shiga, Jepang, akhir pekan lalu.

Menperin lalu mendorong Daihatsu agar terus menciptakan model terbaru seperti mobil yang menggunakan energi efisien, mengingat Daihatsu terbukti unggul dalam penerapan teknologi tersebut.

“Semoga dalam produksinya dapat lebih banyak melibatkan tenaga-tenaga engineer lokal agar produk Daihatsu terus mengakar di Indonesia,” harap Airlangga.

Sementara itu, dia menyatakan, proyek gabungan Toyota-Daihatsu telah dimulai dengan investasi sebesar Rp 2,4 Triliun untuk memproduksi kendaraan Daihatsu Sigra and Toyota Calya. Model kendaraan ini diperkenalkan pada 2 Agustus 2016 di PT Astra Daihatsu Motor Karawang Plant, Karawang, Jawa Barat.

Pabrik yang memproduksi kedua model kendaraan tersebut memiliki kapasitas 200 ribu unit per tahun. Pengembangan produknya telah melibatkan sekitar 178 pemasok komponen lokal pada lapis 1 dan sebanyak 890 pemasok komponen lokal untuk lapis 2, sehingga nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 94% dan menyerap tenaga kerja 600 ribu orang.

Menperin menyampaikan, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengembangkan industri bahan baku otomotif khususnya di sektor baja. “Pabrik baja di Indonesia saat ini telah mampu memproduksi kebutuhan bahan baku industri otomotif,” ungkap dia. (snx)

Sedan Toyota Absen di GIIAS Surabaya

Darmawan Widjaja, direktur PT Toyota-Astra Motor bersama Hendra Purnawan, operation manager wilayah Jawa Timur dealer Auto2000.

Darmawan Widjaja, direktur PT Toyota-Astra Motor bersama Hendra Purnawan, operation manager wilayah Jawa Timur dealer Auto2000.

Jakarta, autokritik – PT Toyota-Astra Motor (TAM) menampilkan produk-produk terbaik di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 Surabaya, 28 September hingga 2 Oktober 2016 di Grand City, Surabaya, Jawa Timur.

Toyota berpartisipasi dengan menempati total booth seluas 319 m2 atau jauh lebih besar dibandingkan dengan booth GIIAS 2015 Surabaya seluas 121 m2. Selama ekshibisi, Toyota menampilkan enam mobil, yakni 2 unit All New Sienta, 1 unit All New Calya, 1 unit Calya cut body, 1 unit Toyota Avanza, serta 1 unit Kijang Innova. Itu artinya, seluruh sedan dan SUV Toyota absen di pameran ini.

Direktur TAM Darmawan Widjaja menyatakan, sejalan dengan semangat Let’s Go Beyond, Toyota senantiasa melakukan yang terbaik dalam peningkatan produk, teknologi, dan layanan demi memberikan kepuasan bagi pelanggan.

“Melalui ajang GIIAS Surabaya 2016 ini, kami berupaya untuk lebih dekat dengan pelanggan sembari tetap mendukung industri otomotif nasional. Semoga kehadiran Toyota di sini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat, seperti halnya di eksibisi GIIAS lainnya,” kata Darmawan. (snx)

Bos Astra Sindir Toyota Kijang

Penampakan Kijang Innova anyar

Penampakan Kijang Innova anyar

Jakarta, autokritik – Presiden Direktur Grup Astra Prijono Sugiarto menyindir Toyota Kijang Innova. Menurut Pak Pri, demikian dia biasa disapa, Kijang menggunakan nama Indonesia, tapi dibuat oleh orang Jepang.

Prijono kemudian membandingkan Kijang dengan duet mobil murah (LCGC) Toyota Agya dan Daihatsu Ayla, yang bodinya didesain oleh Mark Wijaya di Sunter, Jakarta, lokasi markas besar Astra. Bagi dia, yang paling penting adalah siapa yang mendesain bodi, mesin, dan konsep mobil, sedangkan soal nama terserah.

“Mana yang bikin kita lebih bangga, Agya dan Ayla yang bodinya didesain Mark Wijaya atau namanya Kijang tapi buatan Jepang?” ujar Pri dalam wawancara eksklusifnya dengan majalah Tempo, belum lama ini.

Dimintai komentar terkait rencana Daihatsu membuat mobil dengan 100% kandungan lokal pada 2019, Prijono menyatakan, mudah-mudahan pada tahun itu ada produk dengan peran insinyur lokal lebih banyak dan kandungan lokal mendekati 100%.

“Bukan kita tak bisa buat lokal sepenuhnya, tapi ada beberapa komponen yang kalau dilokalkan tidak ada bedanya, seperti baut,” ujar Prijono

Kijang diproduksi oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), anak usaha Toyota Motor Corporation (TMC), di pabrik Karawang, Jawa Barat. Di perusahaan ini, Astra hanya memegang 5% saham.

Sementara itu, Agya-Ayla diproduksi PT Astra Daihatsu Motor, anak usaha Daihatsu Motor Company, dengan kepemilikan saham 61,7%. Di perusahaan ini, porsi saham Astra lebih besar, sebesar 31,9%. Sang dirut, Sudirman MR, juga menjadi direktur di Grup Astra, kelompok usaha otomotif terbesar nasional, yang dikendalikan Jardine Singapura. (snx)

Pak Pri Absen Lagi, Ada Apa?

Gedung Astra di Sunter, Jakarta Utara

Gedung Astra di Sunter, Jakarta Utara

Jakarta, autokritik – Ibarat film “Batman dan Robin”, hubungan antara PT Astra International Tbk dan Grup Toyota (Toyota Motor Corporation) tak bisa terpisahkan di Indonesia. Namun, belakangan ini terdengar kabar hubungan keduanya mulai retak.

Indikasi itu terlihat pada tak hadirnya Prijono Sugiarto, presiden direktur Grup Astra, pada peluncuran dua model andalan terbaru, Toyota Calya dan Daihatsu Sigra di Karawang, Jawa Barat, Selasa (2/8). Padahal, kedua model ini merupakan kartu truf untuk kembali mendongkrak penjualan di pasar otomotif nasional.

Prijono juga tak hadir kala PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) melakukan line off Toyota Sienta. Sama seperti pada acara Calya dan Sigra, Prijono diwakili oleh Djoko Pranoto.

Pengumuman proyek Calya-Sigra pertama kali disampaikan juga oleh Prijono, ketika perayaan produksi 4 juta unit PT Astra Daihatsu Motor (ADM) di Sunter, Jakarta Utara, Kamis (7/5/2015). Kala itu, adik kandung Jongkie Sugiarto, mantan bos Hyundai Mobil Indonesia, membocorkan rencana kolaborasi lanjutan antara Toyota dan Daihatsu.

“Tadi pagi saya sudah memberikan approval salah satu produk dengan dual badge (dua merek) lagi, dengan komitmen investasi lebih dari Rp 1 triliun,” kata Prijono, waktu itu.

Informasinya, ada upaya pucuk pimpinan perusahaan untuk memupuskan dominasi Toyota pada bisnis Grup Astra. “Sekarang bos Astra sudah tidak ada lagi yang mau menemani. Petinggi-petinggi Toyota sudah anti terhadap mereka,” kata sumber yang mengetahui permasalahan ini.

Upaya Astra untuk lepas dari dominasi Toyota bisa dibilang unik. Pasalnya, penopang utama bisnis Astra di Indonesia adalah Toyota. Per Juni 2016, pangsa pasar dua merek Grup Toyota, Daihatsu dan Toyota, yang penjualannya diageni Astra mencapai 49,6% atau nyaris 50%.

Toyota menyumbangkan 32,8%, sedangkan Daihatsu 16,8%. Adapun pangsa pasar Isuzu yang juga diageni Astra hanya 1,52%. Sisa merek lain seperti Peugeot dan UD Trucks tidak perlu dihitung. Jadi agak sulit melepaskan ketergantungan Astra terhadap Toyota.

Apalagi, Senin (1/8/2016), Toyota baru saja menyelesaikan akuisisi 100 persen saham Daihatsu di Jepang. Langkah strategis yang membuat seluruh bisnis ADM di Indonesia, kini dipegang langsung oleh Toyota bukan Astra, melihat komposisi saham kepemilikan pada perseroan (ADM).

Indikasi keretakan sebenarnya sudah terjadi sejak 2015, ketika unit bisnis distributor Auto2000 kehilangan status spesial sebagai diler utama. Pengaturan distribusi kendaraan Toyota kini langsung di bawah TAM, di mana Jepang ikut berperan langsung.

Keputusan ini membuat Astra mencetak penurunan laba bersih, terlihat pada laporan keuangan kuartal I-2016, di mana laba bersih otomotif Astra turun 3%. Namun, masuk kuartal II, Astra mampu membalikkan keadaan, sehingga laba otomotif naik 13% menjadi Rp 3,8 triliun semester I-2016, seiring larisnya Fortuner dan Innova anyar.

Sampai saat ini, belum ada indikasi rencana damai antara pucuk pimpinan Astra dan prinsipal Toyota. (*)

Toyota Tergelincir di Awal Tahun

2015 Reveal of All New Toyota Fortuner. (Crusade pre-production model shown)

2015 Reveal of All New Toyota Fortuner. (Crusade pre-production model shown)

Jakarta, autokritik – Penjualan domestik Toyota turun 6,6% menjadi 50 ribu unit per Februari 2016. Alhasil, pangsa pasar Toyota tergelincir ke bawah 30% atau tepatnya 29,1%, turun dari periode sama tahun lalu 29,5%.

Sebaliknya, pangsa pasar sang rival, Honda, naik dari 16,7% menjadi 21,9%. Ini berkat larisnya penjualan crossover BR-V sasis monokok.

Meski begitu, broker saham Danareksa Sekuritas percaya Toyota segera bangkit, didorong kehadiran model-model baru seperti Fortuner dan Kijang Innova. (snx)