Tagged: motor

Industri Motor Digebuk Kartel dan Biaya STNK


Jakarta, autokritik – Awan kelabu menggelayuti industri sepeda motor nasional. Setelah dihajar kenaikan biaya STNK dan BPKB, dua pemain utama industri motor, Yamaha dan Honda, dihantam vonis kartel dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). 

Dari keterangan GM Sales Division PT Astra Honda Motor (AHM) Thomas Wijaya, penjualan motor langsung ke konsumen alias ritel anjlok 30% Januari lalu. Padahal, penjualan secara wholesales (pasokan motor dari pabrik ke diler) naik 14% menjadi 437 ribu unit dibandingkan Januri 2016. 

Thomas mengatakan, penjualan wholesales AHM memang naik 19% menjadi 368 ribu unit. Namun, angka itu tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya di pasar domestik, karena hanya wholesales. Faktanya, penjualan langsung ke konsumen melorot 30% dibandingkan bulan sama tahun lalu karena terdampak kenaikan harga jual akibat penaikan biaya administrasi STNK.

“Stok kami di diler pada Desember tipis, sehingga kami memutuskan untuk menambah pasokan unit ke jaringan. Alhasil, pada awal tahun ini terjadi kenaikan 19%. Bulan berikutnya kami akan sesuaikan lagi pasokan untuk mengantisipasi dampak kenaikan biaya administrasi STNK,” kata dia belum lama ini. 

Awal tahun ini, rezim Jokowi menaikkan biaya STNK dan BPKB otomotif hingga 2-3 kali lipat. Pemerintah berkilah hal ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan. 

Sementara itu, KPPU memvonis PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan AHM melakukan kartel dalam menetapkan harga dan volume penjualan motor jenis skuter otomatik (skutik).

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata berang dengan keputusan itu. Dia menilai, putusan itu tidak pas dan cocok dengan bukti-bukti yang ada.

“Kami angggap putusan KPPU di luar konteks. Bukti apa yang disampaikan KPPU dasarnya tidak kuat,” kata Gunadi, hari ini.

Jika dasar pertimbangan KPPU tidak cukup kuat, kata dia, akan berpengaruh terhadap pandangan investor terhadap Indonesia. Situasi ini sangat mengganggu iklim kerja industri, terutama di situasi yang sulit saat ini.

Dia memastikan, putusan tersebut tidak tepat, karena tidak ada persengkongkolan yang dilakukan anggotanya.

“Kalau memang dilihat iklim di Indonesia tidak bersahabat, pabrikan akan investasi di tempat lain. Padahal, kita sudah berupaya agar kondisi Indonesia nyaman dan baik untuk investasi,” kata Gunadi. 

Dengan keputusan itu, Gunadi menilai, pabrikan bakal sangat hati-hati dalam menaikkan harga jual. Ini berisiko memangkas margin. (snx)

Honda Melambat pada 2017

penampakan-new-mobilio

Jakarta, autokritk – PT Honda Prospect Motor (HPM) menargetkan penjualan tahun ini mencapai 210 ribu unit, tumbuh 10% dibandingkan 2016 sebanyak 199.364 unit. Pertumbuhan itu lebih rendah dari 2016 sebesar 25%.

Marketing and After Sales Service Director HPM Jonfis Fandy mengatakan, 2016, merupakan tahun yang cukup penting bagi Honda, karena berhasil meraih pertumbuhan penjualan cukup tinggi sebesar 199.364 unit. Ini merupakan rekor penjualan tertinggi Honda di Indonesia. Pangsa pasar Honda juga naik dari 16% pada 2015 menjadi 19% pada 2016.

“Dengan prestasi yang diraih pada 2016, kami optimistis bisa memacu penjualan pada 2017,” ujar dia di Jakarta, Kamis (12/1), seperti dilansir Investor Daily.

Dia menegaskan, ada tiga faktor utama yang mendongkrak penjualan Honda pada 2017. Pertama, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh pada level 5%. Kedua, inflasi terkendali. Ketiga, dana yang dideklarasikan pada program tax amnesty cukup besar, Rp 4.305 triliun.

Dia menyatakan, kontribusi terbesar penjualan pada 2017 diperkirakan masih sama seperti 2016, yaitu BR-V dan Mobilio. Sepanjang 2016, kedua produk ini mendominasi penjualan dan diperkirakan. “Segmen SUV yang dihuni BR-V tetap tumbuh pada 2017,” ujar dia.

Untuk mencapai target penjualan pada 2017, demikian Jonfis, Honda juga terus menambah jumlah diler. Saat ini, jumlah diler Honda mencapai 167 dealer dan ditargetkan mencapai 205 hingga akhir 2017. (ID)

Penjualan Motor 2016 Gagal Capai Target

ilustrasi-motor

Jakarta – Penjualan sepeda motor domestik turun 8,4% menjadi 5.931.285 unit pada 2016, dibandingkan 2015 sebanyak 6.480.155 unit. Jumlah itu di bawah target Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi).

Ketua Bidang Komersial Aisi Sigit Kumala menuturkan, penurunan penjualan motor tahun lalu dipicu melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini tak lepas dari masih lemahnya pertumbuhan ekonomi nasional di level 5%.

“Pelemahan daya beli sangat terasa pada awal 2016. Ini membuat penjualan motor sulit naik,” ujar dia di Jakarta, Selasa (10/1).

Sementara itu, Desember 2016, penjualan motor turun 16% menjadi 437.764 unit, dibandingkan bulan sama 2015 sebanyak 520.400 unit. Jika dibandingkan November 2016, penjualan bulan lalu anjlok 23% dari 570.923 unit.

Sigit menilai, hal itu disebabkan strategi pengurangan distribusi yang dilakukan pabrikan motor. Ini dilakukan untuk mengantisipasi pergantian tahun. Biasanya, konsumen lebih memilih membeli motor tahun produksi baru ketimbang lama.

Berdasarkan data Aisi, konstelasi pasar motor domestik tidak berubah. Honda masih bercokol di posisi puncak dengan penjualan sebanyak 4.380.888 unit pada 2016, dengan pangsa pasar 74%. Yamaha berada di posisi kedua dengan penjualan 1.394.078 unit (23,5%), diikuti Kawasaki sebanyak 97.622 unit, Suzuki 56.824 unit, dan TVS 1.873 unit

Total penjualan motor tahun lalu mencapai 6.215.350 unit, turun 7,35% dari 2015 yakni 6.708.387 unit. Kontraksi ini lebih rendah karena volume ekspor naik siginifikan menjadi 284 ribu unit. (snx)

KPPU: Harga Wajar Skutik Rp 8 Juta, Bukan Rp 15 Juta

alasan-all-new-honda-beat-pop-esp-lebih-murah-4naxb7cWtf

Jakarta, autokritik  – Berdasarkan data yang dihimpun Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), harga wajar skuter otomatik (skutik) Rp 8-7 juta, bukan seperti yang dipasang PT Astra Honda Motor (AHM) dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Rp 15 jutaan.

KPPU menduga AHM dan YIMM bersekongkol membuat kesepakatan harga jual skutik sejak 2013. KPPU menilai, praktik usaha tidak sehat ini merugikan konsumen. Sebab, konsumen tidak dapat memperoleh harga beli sepeda motor yang kompetitif.

KPPU menggelar sidang perdana Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 04/KPPU-I/2016 terkait Dugaan Pelanggaran Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dalam Industri Sepeda Motor Jenis Skuter Matik 110-125 cc di Indonesia oleh kedua agen pemegang merek (APM) tersebut.

“Dari struktur harga yang kali temukan seharusnya hanya sekitar segitu. Tapi, kenyataannya harga skutik mencapai Rp 15 juta. Maka kami melakukan investigasi, karena jangan-jangan ini kemahalan,” jelas Ketua KPPU Syarkawi Rauf, Selasa (19/7).

Saat ini, KPPU telah memiliki dua bukti penyidikan berupa dokumen fisik. Jika terbukti melanggar, Yamaha dan Honda dapat dikenakan denda Rp 25 miliar. “Motif melakukan kartel yaitu menambah keuntungan dan menjegal adanya pesaing baru di pasar. Kami akan menelusuri lebih lanjut apakah dugaan tersebut benar atau tidak,” kata dia. (ID)

Aisi: 40% Bikers yang Kecelakaan Tak Punya SIM

Diskusi Mudik Jarak Aman

Jakarta, autokritik – Sebanyak 40% pesepeda motor yang terlibat kecelakaan tidak memiliki SIM. Oleh karena itu, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) meminta Polri mencermati masalah ini.

“Jadi, masalah kecelakaan harus diselesaikan secara bersama-sama,” ujar Ketua Umum Aisi Gunadi Sindhuwinata di Jakarta, belum lama ini.

Namun, Gunadi menyatakan, industri sepeda motor tidak dapat mengharuskan pembeli memiliki SIM. Sebab, belum tentu motor yang dibeli digunakan sendiri.

Kecelakaan lalu lintas jalan yang melibatkan sepeda motor selama mudik Lebaran 2015 mencapai 3.633 kasus, stagnan dari 2014. Sepeda motor masih menjadi penyumbang kecelakaan tertinggi, dengan porsi 66% dari total 5.514 kasus.

Berdasarkan data Korlantas Mabes Polri, kecelakaan mudik tahun lalu naik 7% dari 2014 sebanyak 5.144 kasus. Pertumbuhan kecelakaan terbesar dicetak kendaraan khusus sebesar 468% menjadi 108 kasus, kendaraan tidak bermotor 187% menjadi 284 kasus, dan mobil penumpang 38% menjadi 871 kasus. Adapun kasus kecelakaan bus turun 127% menjadi 218 kasus dan

Sementara itu, korban meninggal dunia turun 11% menjadi 646 orang dari 722 orang. Meski turun, jumlah itu masih terbilang tinggi. Sebab, dalam sehari selama periode mudik, rata-rata korban meninggal mencapai 40 orang.

Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) Edo Rusyanto menilai, lebih rendahnya korban meninggal selama mudik dibanding hari biasa disebabkan adanya koordinasi antarinstansi pemerintahan. Pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk mengawal mudik Lebaran.

Oleh karena itu, koordinasi ini harus diteruskan sepanjang tahun agar kasus fatalitas bisa ditekan. Selain itu, manajemen keselamatan mudik perlu ditingkatkan. Alasannya, meski dalam tren turun, kasus kecelakaan yang memicu fatalitas selama mudik masih cukup tinggi.

“Masyarakat pun harus mampu melindungi diri dengan manajemen perjalanan mudik yang sehat dan tepat,” kata Edo Rusyanto dalam diskusi Jurus Perlindungan Keselamatan Mudik. (snx)

Kemacetan Kian Parah, Asing Malah Keruk Rp 8,1 Triliun

Jakarta, autokritik – PT Astra International Tbk (ASII), perusahaan otomotif terbesar sekaligus konglomerasi usaha papan atas nasional, membagikan dividen sebesar Rp 8,7 triliun untuk tahun buku 2012 atau setara 45% dari laba bersih Rp 19,4 triliun. Hal itu sudah disetujui rapat umum pemegang saham (RUPS) Astra.

Namun, sebanyak Rp 8,1 triliun duit itu diraup pemodal asing, bukan oleh anak negeri, tempat Astra mengeruk keuntungan.

Berdasarkan data di laman Astra, sebanyak 93,6% pemegang saham Astra adalah pemodal asing, terdiri atas investor ritel dan institusi. Sisanya sebesar 6,3% dikuasai pemodal ritel dan institusi lokal.

Pemegang saham terbesar Astra adalah Jardine Matheson Holdings Ltd, perusahaan investasi yang berbasis di Inggris, dengan kepemilikan 50,9%. Itu artinya, jatah dividen Astra untuk Jardine mencapai Rp 4,4 triliun atau setaraUS$ 450 juta.

Adapun pemodal lokal hanya kebagian Rp 548 miliar. Jatah investor ritel lokal lebih kecil lagi, hanya Rp 78 miliar.

Melihat angka itu, tak heran Jardine tetap mempertahankan kepemilikannya di Astra. Selain dari Astra, perusahaan yang juga mengendalikan Hero Supermarket melalui unit bisnisnya Dairy Farm itu mendapatkan pasokan duit dari PT Tunas Ridean Tbk (Turi), dealer Toyota, Daihatsu, Isuzu, dan motor Honda. Empat produk itu seluruhnya diageni oleh Astra.

Kesimpulannya, kemacetan di Indonesia yang sudah menjadi budaya ternyata bisa dinikmati, asalkan kita tahu caranya. Itulah yang selama ini dinikmati oleh pemodal asing.

Memang, Astra tidak hanya menjual produk otomotif, melainkan juga merangsek ke beberapa sektor lain, seperti perkebunan, alat berat, infrastruktur, dan TI. Tapi, kontribusi sektor otomotif terhadap Astra masih cukup besar. Tahun lalu, laba divisi otomotif mencapai Rp 9,5 triliun. Jika merujuk rasio dividen 45%, dividen dari divisi otomotif mencapai Rp 4,2 triliun dan sebanyak Rp 3,9 triliun dinikmati pemodal asing.

Ini hanya sekadar pandangan. Terlepas dari itu semua, Astra juga berperan dalam memajukan ekonomi Indonesia. Perseroan juga sudah memecah nilai nominal saham (stock split) 1:10 tahun lalu untuk menambah porsi investor lokal. Mudah-mudahan, masyarakat atau pemodal lokal nantinya bisa lebih besar menikmati keuntungan Astra.