Category: Opini

Utilisasi Pabrik Cuma 50%, Yamaha Mau Investasi Apa?

maverick-vinales-dengan-all-new-r15-di-sentul-international-circuit

Jakarta, autokritik – Setelah divonis mengatur harga jual skutik bersama Honda oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Yamaha mengancam akan mengevaluasi investasi di Indonesia. Pertanyaannya, memangnya Yamaha mau investasi apa?

Investasi perluasan pabrik rasanya tak mungkin, karena utilisasi tahun lalu hanya 50% dari total kapasitas produksi terpasang 3 juta unit per tahun. Penjualan domestik dan ekspor Yamaha mencapai 1,5 juta unit. 

Januari 2017, penjualan Yamaha tak kunjung membaik. Total penjualan turun 13% menjadi 110 ribu unit. Padahal penjualan industri motor naik dari 443 ribu unit menjadi 502 ribu unit. Artinya, utilisasi sulit naik tahun ini. 

Di luar ekspansi pabrik, Yamaha bisa saja menambah investasi untuk memproduksi model baru. Kabarnya, beberapa model baru siap dilepas Yamaha tahun ini, seperti Vixion.

Sebelumnya, KPPU memvonis PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan PT Astra Honda Motor (AHM) bersekongkol menetapkan harga jual skuter otomatik (skutik).

Kedua perusahaan itu terbukti bersalah sesuai perkara 04/KPPU-I/2016 tentang dugaan pengaturan harga yang dibacakan saat sidang di kantor KPPU Jakarta, Senin (20/2). Dua pabrikan itu melanggar melanggar ‎ Pasal 5 Undang-Undang No 5 ‎Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Bunyi pasal itu adalah pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama.

Majelis menghukum YIMM dengan denda Rp 25 miliar dan AHM Rp 22,5 miliar. Denda yang diterima YIMM lebih berat, karena dinilai memanipulasi data di persidangan. Oleh sebab itu, hukuman YIMM sudah termasuk ditambah 50% dari besaran proporsi denda. Adapun denda AHM telah dipotong 10%, karena dinilai kooperatif oleh majelis hakim. (snx)

Tanpa GSX 150, Suzuki Bisa Punah

img_1342
Jakarta, autokritik – Suzuki babak belur dalam beberapa tahun terakhir, dihantam serangan terstruktur, sistematis, dan masif Honda. Penjualan Suzuki melorot 49% menjadi 56.284 unit tahun lalu, jauh lebih besar dari pasar yang hanya 8%.

Jangan tanya peringkat di pasar, karena Suzuki kini tak mampu bersaing dengan sesama pabrikan Jepang. Suzuki hanya mampu mengungguli merek India, TVS. Jika keadaan ini terus berlanjut, bukan mustahil Suzuki akan punah. Saat ini saja, banyak diler Suzuki tutup.

Sadar dengan fakta ini, Suzuki melansir duet GSX-R150 dan GSX-S150, yang diharapkan menjadi motor kebangkitan Suzuki tahun ini. PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) tidak berhenti sampai di sini. Pemanufaktur dan APM Suzuki itu bakal melepas total delapan motor baru tahun ini.

Department Head Marketing and Sales 2W SIS Yohan Yahya menegaskan, duet GSX 150 ditargetkan meraup 15% pangsa pasar di kelas motor sport 150 cc. Adapun total pasar segmen ini berkisar 40-50 ribu unit.

“Strategi untuk mencapai target itu adalah merilis duet GSX 150 di Jakarta, yang akan diikuti lima kota besar lainnya. Setelah itu, kami akan memperkenalkan motor ini di 39 kota dalam tempo enam bulan dan menambah jaringan penjualan,” ujar Yohan, belum lama ini.

Dua motor ini, kata dia, kali pertama diperkenalkan pada ajang Indonesia Motorcycle Show 2016, November silam. Hingga kini, total inden yang masuk mencapai 900 unit, dengan perincian 80% R dan 20% S.

SIS, kata Yohan, menargetkan seluruh inden dibereskan bulan ini. Setelah dua motor itu dirilis, Suzuki menutup inden dan meminta konsumen datang langsung ke jaringan diler SIS. (snx)

Gaikindo Lelet 

GIIAS 2015
Jakarta, autokritik – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kini seperti asosiasi primitif yang tak memiliki data kinerja industri terbaru. Gaikindo kalah dari asosiasi industri lain seperti Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dan Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yanh konsisten merilis data tepat waktu.

Hingga kini, Gaikindo belum melepas data penjualan, produksi, ekspor, impor mobil Januari 2017. Padahal, biasanya data seperti ini sudah ada pertengahan bulan.

Hal ini sudah terjadi sejak Januari 2017. Saat itu, Gaikindo baru melepas data 2016 pada akhir bulan. Alhasil, kalangan analis dan jurnalis, termasuk blogger, telat dalam menyampaikan kinerja industri mobil selama 2016.

Dari penelusuran autokritik, beberapa analis saham baru merilis riset tentang kinerja industri mobil kemarin. Itupun setelah Grup Astra menyebar data Jumat pekan lalu.

Data mobil dibutuhkan untuk mengukur daya beli masyarakat dan membaca peta persaingan. Analis saham juga membutuhkan data itu untuk memberikan rekomendasi saham-saham otomotif, seperti Astra, yang kapitalisasi pasarnya masuk lima besar Bursa Efek Indonesia (BEI). Semoga pengurus Gaikindo paham. (snx)

Vixion Butuh Upgrade Mesin, Bukan Penampilan

Vixion Advance

Jakarta, autokritik – Yamaha Vixion, sport naked bike Yamaha, New tampil spesial menjelang akhir tahun 2016 ini. Enam aksesoris dipasang pada New V-Ixion Advance Special Edition, yaitu fuel tank pad, USB charger, visor rainbow screen, middle cowl, engine guard, muffler cover.

Padahal, menurut penilaian autokritik, Vixion membutuhkan upgrade mesin, bukan penampilan. Ini lantaran daya gedor motor ini sangat rendah. Kalaupun tak bisa mengupgrade mesin, minimal Yamaha perlu menambah gigi menjadi 6 dari sebelumnya 5.

Dari sisi tenaga, motor ini hanya mampu menghasilkan 12,2 kw/8.500 rpm dan torsi 14,5 nm/7.500 rpm. Sebagai perbandingan, sang rival Honda CB150R memiliki tenaga 12,4 kw/9.000 rpm dan torsi 13,8 nm/7.000 rpm.

”Kami meluncurkan New V-Ixion Advance Special Edition yang sudah dilengkapi dengan 6 aksesoris ini sesuai dengan apa yang dibutuhkan konsumen. Visor rainbow screen warna bunglon unik dan terlihat menonjol, menambah daya tarik V-Ixion ini. Kreativitas dari Yamaha ini akan makin mengangkat citra V-Ixion dan kebanggaan penggunanya,” ujar Asisten GM Marketing PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Mohammad Masykur.

Harga New V-Ixion Advance Spesial Edition ini on the road Jakarta Rp 26,28 juta, sedangkan Advance reguler Rp 25,35 juta. (snx)

Diler Ford Rata-rata Cuma Jual 11 Unit Sebulan

ilustrasi ford

Jakarta, autokritik – Kebangkrutan PT Ford Motor Indonesia (FMI) menimbulkan banyak spekulasi. Ada yang menilai, Ford tak pantas bangkrut karena penjualannya tahun lalu mencapai 6.103 unit, lebih tinggi dari saudaranya Chevrolet 4.541 unit.

Juru bicara Ford kemarin menyatakan, alasan utama Ford kabur dari RI adalah kesulitan mencari untung, dengan penjualan hanya 6 ribuan unit. Patut dicatat, jumlah diler Ford kini mencapai 44. Itu artinya, dalam setahun, rata-rata penjualan diler Ford 138 unit dan sebulan hanya 11 unit.

Autokritik menilai, sulit mempertahankan bisnis dengan penjualan 11 unit per bulan. Oleh karena itu, bisa jadi Ford boncos karena menambal kerugian diler.

Sebagai perbandingan, total diler Honda tahun lalu sekitar 110 unit, sedangkan penjualan Honda mencapai 161 ribu unit. Artinya, rata-rata penjualan tahunan dan bulanan diler Honda mencapai 1.463 unit dan 121 unit. (snx)

Mobil Murah, Warisan Berharga atau Buruk SBY?

image

Jakarta, autokritik — Terima kasih SBY atas dedikasimu untuk Indonesia tercinta, terlepas dari segala kekurangannya. Okelah, karena ini blog otomotif, kita langsung bicara saja soal peninggalan zaman SBY di industri ini.

SBY termasuk presiden yang ramah kepada industri otomotif. Beberapa kebijakan strategis pria Pacitan ini adalah bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) komponen dan tentu saja yang paling panas mobil murah ramah lingkungan (low cost and green car/LCGC).

LCGC disusun sejak 2009. Proyek ini terinspirasi program eco car Thailand yang sukses menarik investasi beberapa prinsipal Jepang.

LCGC dibebaskan dari PPnBM dengan sejumlah syarat, antara lain konsumsi bensin 1 liter/20 km, kandungan lokal 85% setelah 5 tahun berproduksi, dan mesin di bawah 1.200 cc.

LCGC langsung dikecam begitu resmi dijual September 2013 lewat model Toyota Agya dan Daihatsu Ayla. Hujatan bahkan datang dari Jokowi yang kini resmi jadi presiden RI. Alasannya sederhana saja, LCGC bisa membuat kemacetan di kota-kota besar. Pemerintah bukannya membangun transportasi massal, tapi malah menggiring orang membeli kendaraan pribadi.

Intinya, LCGC yang kini sudah tidak murah lagi dinilai kontradiktif dengan upaya memobilisasi pengguna kendaraan pribadi ke transportasi massal. LCGC juga dinilai hanya menguntungkan pabrikan Jepang yang bercokol kuat di belantika otomotif RI.

DPR bereaksi sangat keras dan memanggil MS Hidayat beserta dirjen-dirjen yang dinilai bertanggung jawab. DPD juga sempat menyeret eksekutif ke parlemen untuk meminta penjelasan.

Hidayat jelas tidak terima. Mulailah mantan ketum Kadin ini bersilat lidah. Ada tiga alasan yang mengemuka. Pertama, LCGC  menarik investasi UD$ 6,5 miliar dan ribuan lapangan kerja. Prinsipal yang masuk selain Toyota dan Daihatsu adalah Datsun, Honda,dan Suzuki. Berkat LCGC kapasitas terpasang industri mobil kini mendekati 2 juta unit per tahun.

Kedua, LCGC diplot untuk menahan sebuan produk serupa dari Thailand. Terakhir, LCGC positif bagi kelas menengah yang ingin membeli mobil. Insentif PPnBM 0% ditujukan bagi konsumen, bukan untuk pabrikan.

Wacana pembubaran LCGC mereda setelah isu-isu lain muncul. Langkah Hidayat cs juga membantu meredanya pemberitaan negatif.

Namun, hal itu tak berlangsung lama.
Kritik muncul lagi setelah pemilik LCGC kebanyakan membeli premium. Padahal, LCGC harus menenggak pertamax.

Pro kontra LCGC terakhir adalah niatan Jokowi memberangus proyek ini. Hidayat menegaskan hal ini tidak bisa dilakukan karena bakal membuat berang prinsipal yang sudah investasi besar-besaran. Tapi, Hidayat pasrah jika nantinya Jokowi menyikat habis LCGC. Jadi, LCGC itu warisan berharga atau buruk pemerintahan SBY? Ya silakan sikat sendirilah bro hehehehe. (snx)

Bagusan Mana, Shell atau Pertamax?

image

image

Jakarta, autokritik — Jokowi sang presiden anyar sudah sounding bakal mengerek harga bensin subsidi hingga 46% atau Rp 3 ribu menjadi Rp 9.500 per liter dari Rp 6.500. Solar dikerek ke level Rp 8.500 per liter dari Rp 5.500.

Alhasil, selisih antara bensin subsidi dan nonsubsidi makin mepet saja jadi sekitar plus minus Rp 2 ribu. Sekarang Shell super Rp 10.700 per liter sedangkan pertamax biru Rp 10.900 per liter.

Dengan selisih itu, tanggung juga kalau beli bensin subsidi. Kasarnya, nambah dikit motor atau mobil bisa lebih enak dibawanya. Pertanyaannya, bagusan mana, Shell atau Pertamax.

Ya ini sih pendapat pribadi saja selaku bikers pengendara motor sejuta umat Honda Beat Fi. Dari pengetesan autokritik, Shell bisa naikkan lari motor, sedangkan pertamax bikin halus mesin.
Dengan Shell, Beat boncos sanggup digeber 98 kilometer per jam (kpj) sedangkan pertamax biru maksimal 93 kpj. Ban yang dipakai Bridgestone Battlax BT 39 ring 14. Berat badan autokritik sekitar 70 kilogram (kg).

Suara mesin meraung keras saat memakai Shell, sedangkan pertamax lebih halus. Dari sini, muncul lah kesimpulan itu.

Kalau bro-broku mau diskusi monggo masuk ya di sini. Terima kasih atas perhatiannya. Salam kritik konstruktif demi otomotif yang lebih baik. (snx)

Grand Livina, Don Juan yang Disia-siakan

Jakarta, autokritik — Tidak ada yang salah dengan Nissan Grand Livina. Mobil serbaguna bawah atau low multi purpose vehicle (MPV) tujuh penumpang itu berpenampilan menarik, baik tampak dari depan, samping, dan belakang.

Mesin 1,5 liter dan 1,8 liternya tangguh dan konsumsi bensinnya disebut-sebut beberapa penggunanya sangat irit. Biaya perawatannya juga 50% lebih murah dibanding MPV besutan Grup Astra, yakni Toyota Avanza dan Kijang Innova serta Daihatsu Xenia.

“Handling-nya juga paling baik di kelasnya, karena dibawa 140 kilometer per jam (kpj) masih enak,” kata Gianto, pengguna Livina keluaran 2009, belum lama ini.

Berkat Livinalah, Gianto jatuh cinta kepada Nissan. Bahkan, dia tidak mau berpaling ke merek lain.

“Kalau sudah kena Nissan, ga mau ke merek lain,” kata dia.

Jadi bisa dibilang Grand Livina adalah pintu masuk bagi konsumen untuk mencintai Nissan, merek mobil asal Jepang yang di Indonesia diproduksi PT Nissan Motor Indonesia (NMI). Livina bagaikan seorang Don Juan, legenda pria Spanyol yang mampu membuat wanita segala umur jatuh cinta dan terkapar di segala medan.

Namun, semua keunggulan itu rupanya tidak mampu mencegah kejatuhan harga jual kembali (resale value) Livina, yang rata-rata ambles Rp 30 juta tahun ini. Kondisi itu dipicu ulah NMI, yang merupakan agen pemegang merek (APM) Nissan di negeri ini, mendiskon habis Livina untuk menguras stok sebagai antisipasi kehadiran versi baru.

Jadi, Livina sebenarnya tidak bermasalah. Mobil itu hanya terimbas kebijakan pintas NMI, yang 75% sahamnya dimiliki sang prinsipal Nissan Motor Company dan 25% Grup Indomobil.

Melihat fakta itu, konsumen bisa memanfaatkan kejatuhan harga Livina untuk masuk. Tak usah pikirkan harga jual kembali. Cukup masuk kabin, tekan gas, dan nikmatilah produk Jepang itu.