22% Korban Kecelakaan Pejalan Kaki


Jakarta, autokritik  – Pedestrian masih menjadi kelompok pengguna jalan yang rentan kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia, setiap hari belasan pedestrian meregang nyawa di jalan raya. Belum lagi mereka yang menderita luka dan menanggung hilangnya produktivitas.

Di dunia, data World Health Organization (WHO) menyatakan, 22% korban kecelakaan adalah pejalan kaki. Angka itu setara dengan 747 pedestrian tewas per hari.

Di sisi lain, kebijakan pemangku kepentingan yang berpihak pada pedestrian masih setengah hati. “Lihat saja misalnya, fasilitas trotoar, jembatan penyeberangan orang (JPO), dan zebra cross yang demikian minim,” ujar Alfred Sitorus, koordinator Koalisi Pejalan Kaki (KoPK), di Jakarta, Minggu (22/1).

Dia menambahkan, Indonesia masih ingat fakta paling kelam ketika 13 pedestrian diterjang mobil yang dikemudikan pengendara mobil yang lepas kendali. Sembilan orang meregang nyawa dan empat menderita luka berat, pada suatu pagi di Jakarta, 22 Januari 2012.

“KoPK menyerukan 22 Januari sebagai Hari Pedestrian. Hari untuk para pejalan kaki saling mengingatkan pentingnya keselamatan berlalu lintas jalan,” tutur Alfred.

Sementara itu, Edo Rusyanto, koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), menegaskan, hak pejalan kaki masih tercabik-cabik oleh perilaku pengendara yang super egois. Fasilitas pedestrian dijarah. “Motif ekonomi dan perilaku egois menjadi pemicu terjadinya itu semua,” tukas dia dalam kesempatan yang sama.

Dia berharap, seluruh pengguna jalan memprioritaskan keselamatan jalan. Tahun 2016, masih terjadi 288 kecelakaan per hari. “Tahun lalu, setiap hari 72 jiwa melayang akibat kecelakaan,” kata dia.

Alfred menegaskan, perhatian pemerintah terhadap pejalan kaki masih timpang dibandingkan dengan kasus lain seperti penyalahgunaan narkoba, terorisme, dan bencana alam.

Koalisi Pejalan Kaki menginginkan Kepolisian Republik Indonesia menegakkan hukum dengan lebih tegas, konsisten, transparan, kredibel, dan tidak pandang bulu. Lalu, pemerintah menyediakan sarana transportasi umum yang aman, nyaman, selamat, terjangkau secara akses dan finansial.

Sementara itu, masyarakat diminta untuk selalu mematuhi aturan yang berlaku, yakni UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. “Yang pasti, trotoar, zebra cross, jembatan penyeberangan orang adalah hak dan kedaulatan para pejalan kaki. Mari rebut kembali,” tegas dia. (snx) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s