Indef Anggap Otomotif Indonesia Cuma Tukang Jahit

ioi sdm

Jakarta, autokritik – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) merilis laporan proyeksi ekonomi Indonesia 2017 bertajuk “Menguji Ketangguhan Ekonomi Indonesia”. Ada banyak subsektor ekonomi yang di bahas, di mana salah satunya adalah industri manufaktur.

Dalam laporan itu, Indef dengan tegas menyebut tiga subsektor industri unggulan Indonesia, yakni tekstil, otomotif, dan elektronik hanya tukang jahit yang miskin penguasaan teknologi. Ini merupakan salah satu kesalahan arah kebijakan pembangunan ekonomi yang diterapkan Indonesia sejak kemerdekaan hingga saat ini.

Salah satu yang paling fatal, demikian Indef, adalah membiarkan Indonesia bergantung pada teknologi yang dihasilkan oleh bangsa-bangsa lain. Hingga kini, Indonesia lebih dikenal sebagai bangsa konsumen produk teknologi bangsa-bangsa lain, bukan inovator apalagi pencipta teknologi.

Ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi impor inilah yang menyebabkan sistem ekonomi dan industri Indonesia kurang efisien dan kurang produktif sehingga tidak kompetitif. Padahal, dari sekian banyak variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas dan daya saing bangsa, penguasaan teknologi merupakan faktor yang paling menentukan.

Pada umumnya, lanjut Indef, output industri yang dihasilkan di Indonesia menjadi lebih relatif mahal dibandingkan negara lain. Hal ini terjadi karena selain teknologi, komponen produksi lainnya sebagian besar diimpor.

Buktinya, kandungan impor industri otomotif, tekstil, dan elektronik rata-rata mencapai 75-90%. Artinya, selama ini, tiga industri ini hanya menjadi tukang jahit (assembling). Hanya sedikit sekali
proses transfer teknologi yang diterapkan.

“Sektor hulu (penunjang) dari ketiga industri andalan nasional tersebut juga kurang dikembangkan secara komprehensif. Misalnya, industri TPT kurang ditunjang oleh perkebunan kapas dan budidaya ulat sutera yang tangguh dan berkelanjutan,” tulis Indef.

Kapasitas produksi permesinan pada pabrik tekstil juga belum sepenuhnya optimal. Alhasil, sangat diwajarkan apabila produk dari industri-industri tersebut kalah bersaing dari Vietnam, Malaysia, Tiongkok, hingga Thailand. (snx)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s